Penghuni Malam
Dua ribu sembilan, tahun dimana umurku masih menginjak tujuh tahun. Umur yang tepat untuk tertawa ceria, bermain, dan mengeksplor apa saja yang ku lihat bersama teman-teman sebaya. Namun sayangnya di tahun itu tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan segalanya. Tahun yang menyadarkanku bahwa makhluk tak kasat mata adalah benar adanya.
Di suatu hari, aku bersama tiga orang teman lainnya berjanji akan bermain bersama seusai sekolah. Ketika saatnya tiba, seperti biasa kami bermain dan bercanda tawa sambil mengitari komplek perumahan kami. Hingga kita tiba di depan sebuah rumah usang tak berpenghuni.
Ridha, salah satu temanku berkata,
“Lihat rumah itu”
“Kosong tidak ada siapapun"
"Bukankah jika rumah yang telah lama tak dihuni oleh manusia akan ada makhluk tak kasat mata yang akan tinggal disana?”
Kami semua terkejut dengan perkataan Ridha. Layaknya anak kecil lainnya yang mudah terpengaruh hal apapun yang didengar, kami mempercayai perkataan Ridha.
Kami dibuat lebih terkejut lagi dengan suara ketokan dan suara yang kencang seperti terdapat barang yang jatuh dari dalam rumah itu. Temanku yang lainnya, Nona, berjalan maju menghampiri rumah itu tanpa rasa takut. Kami pun mengikutinya dibelakang dan mulai masuk kedalam latar rumah tersebut. Namun karena hari masih sangat terang, kami tak menemukan apapun. Sayangnya, hanya rumah mati tanpa ada peralatan apapun di dalamnya. Lalu darimana suara itu berasal?
Nona mengusulkan ide untuk menjelajahi rumah ini lebih dalam di malam hari. Entah keberanian darimana, kami semua sepakat untuk kembali lagi ke rumah itu keesokan harinya setelah matahari terbenam.
Kami menepati janji itu keesokan harinya. Ridha, Nona, Zahra, dan aku berkumpul di depan rumahku menyiapkan diri masing-masing untuk memulai aksi kami. Hanya bermodalkan nekat dan lampu senter, perlahan kami berjalan menghampiri rumah kosong tersebut.
Rumah
kosong diujung jalan yang menghadap ke persimpangan jalan itu terlihat lebih
menyeramkan di malam hari. Lumut yang menempel seluruh permukaan dinding luar
dan tak ada penerangan satupun membuat penampakan rumah itu terlihat semakin
suram. Namun kami masih bisa melihat dengan jelas rumah itu, rumah tanpa cat
berwarna yang melapisi dindingnya.
Aksi
kami pun dimulai. Kami berempat masuk kedalam rumah itu secara perlahan. Kami
mengecek semua pintu yang ada di rumah itu. Tak disangka pintu bagian
sampingnya dapat terbuka walaupun butuh tenaga untuk mendorongnya. Pintu kayu usang
yang berkarat itu kami buka dan perlahan kami mulai masuk dalam rumah itu. Rumah
itu tak terlalu luas, tetapi keadaannya yang gelap dan lembab menambah
ketakutan disertai aura mencekam yang menghantui kami berempat.
Setelah
mencoba berkeliling, kami tak menemukan hal aneh ataupun janggal sama sekali.
Hanya layaknya rumah biasa yang ditinggalkan oleh pemiliknya selama
bertahun-tahun dan tak pernah diurus. Kami berjalan kembali menuju pintu utama,
pintu pertama yang membawa kami masuk. Satu persatu kami keluar dari rumah itu.
Aku adalah orang pertama yang berhasil keluar disusul Ridha dan Nona.
Hingga
akhirnya giliran Zahra untuk keluar, hal yang tak kami inginkan dari awal,
terjadi. Zahra terjatuh, terasa seperti ada tangan yang memegang kakinya.
Tangan tak kasat mata itu kemudian menyeret Zahra masuk kedalam kegelapan
rumah. Entah siapa yang menyeretnya. Ia berteriak ketakutan meminta bantuan dan
memohon ampun. Beruntungnya Nona sigap, mengetahui Zahra yang terjatuh ia
segera meraih tangan Zahra dan ketika ada tarikan kuat yang juga sempat ia
rasakan, Nona kemudian menarik kembali Zahra kearah yang berlawanan agar Zahra
selamat dan dapat keluar dari rumah itu.
Lalu
kami semua bergegas keluar dari pekarangan rumah itu dan berlari sejauh
mungkin. Kami segera kembali kerumah masing-masing dan berlindung dibalik
pelukan kedua orangtua. Detik itu juga, aku berjanji pada diriku untuk tidak
akan pernah mengunjungi rumah di persimpangan itu lagi.
Hari
itu, rumah itu, akan selalu menjadi ingatan tragis bagi kami berempat.

Comments
Post a Comment